Novel Senyum Karyamin - Ahmad Tohari
Penilaian Produk
| Nilai Rata-rata | Belum ada Penilaian |
| Jumlah Ulasan | Belum ada Penilaian |
Spesifikasi Produk
| SKU | |
| Garansi | - |
| Dimensi | 20cm x 13cm x 2cm |
| Berat | 120g |
| Produk | Non-UMKM |
| Buatan | Dalam Negri |
| KBKI | - |
| Sertifikat TKDN | |
| TKDN | 0.00% |
| BMP | 0.00% |
| TKDN + BMP | 0% |
Deskripsi
Senyum Karyamin adalah kumpulan cerpen karya Ahmad Tohari yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1989 Meskipun sering disangka sebagai novel karena kepopulerannya, buku ini sebenarnya adalah sebuah antologi yang memuat 13 cerita pendek berlatar pedesaan dengan tokoh utama masyarakat kelas bawah (wong cilik). Detail Utama Buku • Penulis: Ahmad Tohari • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama • Tahun Terbit Pertama: 1989 • Jumlah Halaman: Sekitar 71 halaman (tergantung edisi) • Isi: 13 cerita pendek yang ditulis kurun waktu 1976–1986 Sinopsis Cerita Utama ("Senyum Karyamin") Cerpen utama yang menjadi judul buku ini mengisahkan Karyamin, seorang buruh pengangkut batu kali di sebuah sungai pedesaan. Karyamin hidup dalam kemiskinan yang ekstrem dan kelaparan: • Konflik: Karyamin belum dibayar oleh tengkulak yang menghilang, perutnya kosong karena kelaparan, di rumahnya ada penagih utang, dan ia masih harus menghadapi Pak Pamong yang menagih iuran sumbangan dana untuk Afrika. • Makna Senyum: Di tengah himpitan hidup yang menyesakkan, Karyamin memilih untuk tetap tersenyum. Bagi Karyamin, senyum bukan sekadar ekspresi bahagia, melainkan bentuk pertahanan diri terakhir, simbol kewarasan, dan bentuk kemenangan kecil atas penderitaan. • Klimaks: Puncak cerita terjadi ketika Karyamin akhirnya tertawa lepas dan terbahak-bahak menanggapi situasi absurd di sekitarnya, hingga ia kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembab di tepi lembah Tema dan Karakteristik • Tema Besar: Perjuangan hidup (survival), kemiskinan, ketidakadilan sosial, harga diri (pride), dan ketegaran mental rakyat kecil. • Gaya Bahasa: Khas pedesaan Jawa (khususnya nuansa Banyumasan), sederhana, realistis, namun sarat makna filosofis dan kritik sosial yang mendalam