Novel Ronggeng Dukuh Paruk - Ahmad Tohari
Penilaian Produk
| Nilai Rata-rata | Belum ada Penilaian |
| Jumlah Ulasan | Belum ada Penilaian |
Spesifikasi Produk
| SKU | |
| Garansi | - |
| Dimensi | 20cm x 13cm x 5cm |
| Berat | 670g |
| Produk | Non-UMKM |
| Buatan | Dalam Negri |
| KBKI | - |
| Sertifikat TKDN | |
| TKDN | 0.00% |
| BMP | 0.00% |
| TKDN + BMP | 0% |
Deskripsi
Ronggeng Dukuh Paruk adalah novel karya Ahmad Tohari yang mengisahkan kehidupan Srintil, seorang penari ronggeng di desa terpencil bernama Dukuh Paruk, dengan latar belakang tragedi politik tahun 1965 Informasi Umum • Pengarang: Ahmad Tohari • Tahun Terbit: 1982 (pertama kali terbit sebagai trilogi: Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala) • Latar Tempat: Dukuh Paruk, sebuah desa miskin dan terisolasi di daerah Banyumas, Jawa Tengah • Latar Waktu: Tahun 1960-an di tengah gejolak sosial dan politik Indonesia Tokoh Utama • Srintil: Gadis yatim piatu yang ditunjuk menjadi ronggeng baru di Dukuh Paruk pada usia 11 tahun setelah belasan tahun desa tersebut tidak memiliki ronggeng. • Rasus: Sahabat masa kecil Srintil yang mencintainya, namun memilih pergi dan menjadi tentara karena menolak tunduk pada aturan serta tradisi ronggeng. • Bajus: Tokoh dari luar desa yang mendekati Srintil dan akhirnya mengeksploitasinya Alur Cerita Singkat • Awal Mula: Srintil diangkat menjadi ronggeng oleh dukun ronggeng bernama Kartareja. Ia harus menjalani ritual berat dan sakral, termasuk ritual "buka klambu" (sayembara keperawanan) yang dimenangkan oleh Rasus secara rahasia. • Kejayaan & Konflik: Srintil menjadi ronggeng yang sangat terkenal dan laris. Hubungannya dengan Rasus merenggang hingga Rasus memutuskan pergi dari desa untuk bergabung dengan militer. • Tragedi Politik: Dukuh Paruk hancur akibat kemelut politik tahun 1965 karena dianggap terlibat dengan organisasi terlarang. Srintil ditahan selama beberapa tahun tanpa proses hukum yang jelas. • Akhir Cerita: Setelah dibebaskan, Srintil mengalami trauma berat, dimanfaatkan oleh orang-orang seperti Bajus sebagai komoditas bisnis, hingga akhirnya ia kehilangan kewarasannya dan dibawa oleh Rasus ke rumah sakit jiwa Tema Utama • Tradisi vs Realitas: Menggambarkan bagaimana tradisi lokal desa yang sakral sering kali menuntut pengorbanan besar dari tubuh perempuan. • Sejarah & Kemanusiaan: Menyoroti dampak mengerikan dari konflik politik 1965 terhadap orang-orang kecil di desa terpencil yang sering kali tidak mengerti politik.