Rp172.500 PPh PPN 12% Non-PKP

Novel Pulang - Leila S. Chudori

Rp172.500 PPh PPN 12% Non-PKP
Gratis Ongkir Ke : Kab. Jember
Stok Produk : 10
CV. GARUDA AKASA Kab. Jember Badan Usaha Non-PKP mikro

Penilaian Produk

Nilai Rata-rata Belum ada Penilaian
Jumlah Ulasan Belum ada Penilaian

Spesifikasi Produk

SKU
Garansi -
Dimensi 20cm x 13cm x 4cm
Berat 400g
Produk Non-UMKM
Buatan Dalam Negri
KBKI -
Sertifikat TKDN
TKDN 0.00%
BMP 0.00%
TKDN + BMP 0%

Deskripsi

Novel Pulang karya Leila S. Chudori adalah novel fiksi sejarah dan politik yang menceritakan tentang kehidupan para eksil politik Indonesia pascatragedi G30S 1965 Informasi Umum • Penulis: Leila S. Chudori • Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) • Tahun Terbit: 2012 • Genre: Fiksi sejarah, drama keluarga, dan politik • Penghargaan: Kusala Sastra Khatulistiwa 2013 (Kategori Prosa) Latar Sejarah Cerita dalam novel ini berpusat pada tiga momen penting dalam sejarah Indonesia dan dunia: • G30S 1965: Awal mula tragedi politik yang mengubah nasib para tokoh. • Mei 1968: Gelombang demonstrasi mahasiswa di Paris, Prancis. • Mei 1998: Kerusuhan massal dan kejatuhan rezim Orde Baru di Indonesia Tokoh Utama • Dimas Suryo: Wartawan Indonesia yang menjadi eksil politik di Paris karena paspornya dicabut oleh pemerintah Orde Baru. Bersama ketiga sahabatnya (Nugroho, Risjaf, dan Tjai), ia mendirikan Restoran Tanah Air di Paris. • Lintang Utara: Putri Dimas dari pernikahan dengan wanita Prancis bernama Vivienne Deveraux. Ia tumbuh di Paris dan kemudian pergi ke Jakarta untuk membuat dokumenter sejarah. • Segara Alam: Putra dari Hananto Prawiro (sahabat Dimas yang dihukum mati). Alam tumbuh di bawah bayang-bayang ketakutan Orde Baru dan kemudian menjadi aktivis pada tahun 1998 Alur dan Sudut Pandang Novel ini menggunakan sudut pandang bergantian antara Dimas Suryo, Lintang Utara, dan Segara Alam. Kisah menyoroti pergulatan batin para pelarian politik yang kehilangan kewarganegaraan, rindu pada tanah air yang tak bisa mereka kunjungi selama puluhan tahun, serta pencarian identitas oleh anak-anak mereka di tengah pusaran sejarah