Novel Mata yang Enak Dipandang - Ahmad Tohari
Penilaian Produk
| Nilai Rata-rata | Belum ada Penilaian |
| Jumlah Ulasan | Belum ada Penilaian |
Spesifikasi Produk
| SKU | |
| Garansi | - |
| Dimensi | 20cm x 13cm x 3cm |
| Berat | 320g |
| Produk | Non-UMKM |
| Buatan | Dalam Negri |
| KBKI | - |
| Sertifikat TKDN | |
| TKDN | 0.00% |
| BMP | 0.00% |
| TKDN + BMP | 0% |
Deskripsi
Mata yang Enak Dipandang karya Ahmad Tohari adalah sebuah buku kumpulan cerita pendek (bukan novel) yang berisi 15 kisah tentang perjuangan hidup masyarakat kecil dan kaum marjinal. Buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan memuat cerpen-cerpen yang ditulis serta disebarkan di berbagai media cetak antara tahun 1983 hingga 1997 Informasi Umum Buku • Penulis: Ahmad Tohari • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama • Tebal: 216 halaman • Genre: Kumpulan Cerita Pendek (Fiksi) Ringkasan dan Tema Utama Meskipun sering disangka novel, buku ini merupakan antologi cerpen yang menyoroti realitas sosial, kemiskinan, hilangnya martabat manusia, serta ketimpangan sosial di tengah masyarakat. Cerita utama yang menjadi judul buku ini, "Mata yang Enak Dipandang", mengisahkan tentang Mirta, seorang pengemis tua yang buta, dan Tarsa, orang yang menuntun sekaligus memerasnya. Tarsa memaksa Mirta untuk mengemis di dalam kereta demi keuntungan pribadi hingga Mirta jatuh sakit dan tak berdaya. Di akhir cerita, Tarsa baru menyadari kesalahannya dan merasakan penyesalan mendalam atas eksploitasi yang ia lakukan terhadap Mirta. Selain kisah Mirta, buku ini memuat 14 cerpen lainnya seperti Warung Penajem, Paman Doblo Merobek Layang-layang, Bulan Kuning Sudah Tenggelam, serta berbagai judul lain yang melengkapi total 15 kisah dalam antologi ini. Selengkapnya mengenai daftar judul dan isi cerita dapat ditemukan pada sumber referensi. Gaya bahasa Ahmad Tohari dalam kumpulan cerpen ini sangat khas—sederhana, membumi, sarat dengan latar pedesaan, namun tajam dalam menyampaikan kritik sosial serta nilai-nilai kemanusiaan