Novel Laut Bercerita - Leila S. Chudori
Penilaian Produk
| Nilai Rata-rata | Belum ada Penilaian |
| Jumlah Ulasan | Belum ada Penilaian |
Spesifikasi Produk
| SKU | |
| Garansi | - |
| Dimensi | 20cm x 13cm x 3cm |
| Berat | 350g |
| Produk | Non-UMKM |
| Buatan | Dalam Negri |
| KBKI | - |
| Sertifikat TKDN | |
| TKDN | 0.00% |
| BMP | 0.00% |
| TKDN + BMP | 0% |
Deskripsi
Laut Bercerita adalah novel fiksi sejarah karya Leila S. Chudori yang terbit pada Oktober 2017. Buku ini mengangkat kisah tentang aktivisme mahasiswa dan penghilangan paksa aktivis pada masa akhir Orde Baru tahun 1998 Informasi Umum • Penulis: Leila S. Chudori • Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) • Tahun Terbit: 23 Oktober 2017 • Jumlah Halaman: 379 halaman • Genre: Fiksi Sejarah / Drama Sinopsis dan Alur Cerita Novel ini terbagi menjadi dua babak utama dengan sudut pandang yang berbeda: • Babak Pertama (Sudut Pandang Biru Laut): Mengisahkan Biru Laut Wibisana, seorang mahasiswa Sastra Inggris UGM dan aktivis kelompok diskusi bernama Winatra. Bersama kawan-kawannya, Laut aktif berdiskusi, memperbanyak buku-buku terlarang, dan merancang gerakan perlawanan terhadap rezim yang represif. Pada Maret 1998, Laut disergap oleh empat lelaki tak dikenal di sebuah rumah susun di Jakarta. Ia mengalami penahanan, penyiksaan kejam, hingga akhirnya dibunuh dan ditenggelamkan ke laut. • Babak Kedua (Sudut Pandang Asmara Jati): Berlatar tahun 2000–2007, cerita berfokus pada Asmara Jati, adik kandung Biru Laut. Bersama para keluarga korban hilang dan aktivis dari lembaga kemanusiaan, Asmara berjuang mencari kejelasan nasib kakaknya dan korban-korban lain yang belum pernah kembali. Bagian ini juga menyoroti trauma mendalam keluarga yang terus mempertahankan ritual makan malam bersama seolah Laut akan pulang Tema dan Latar Belakang • Terinspirasi dari kisah nyata tragedi penculikan aktivis politik pada tahun 1997–1998 menjelang kejatuhan rezim Soeharto. • Menyoroti rasa kehilangan, trauma keluarga, persahabatan, serta bentuk perlawanan agar sejarah kelam bangsa tidak dilupakan (the resistance against forgetting).