Rp114.000 PPh PPN 12%

Tetap Saja Mustahil : Hosabi Kasidi 51-100

Rp114.000 PPh PPN 12%
Gratis Ongkir Ke : Kota Semarang
Stok Produk : 100
CV. CV. ARDINTA BERKAH JAYA Kab. Kendal Badan Usaha PKP mikro

Penilaian Produk

Nilai Rata-rata Belum ada Penilaian
Jumlah Ulasan Belum ada Penilaian

Spesifikasi Produk

SKU
Garansi -
Dimensi 00cm x 00cm x 00cm
Berat 0g
Produk UMKM
Buatan Dalam Negri
KBKI -
Sertifikat TKDN
TKDN 0.00%
BMP 0.00%
TKDN + BMP 0%

Deskripsi

Tetap Saja Mustahil : Hosabi Kasidi 51-100 Tri Budhi Sastrio Essi nomor Abadi Kota Suci Essi ini ditulis karena ada janji versi Kasidi Yang ditulis di Hosabi 48 tentang kota suci. Kota memang kota suci tapi dendam benci Merasuk ke tulang sumsum serap inti energi. Cinta Kasih empati pun sirna bak embun pagi Yang tersisa tinggal ampas pahit tungku besi Yang baranya meretas jaring dendam benci, Jadi pemantik kobaran api pembakar nurani Untuk membenci si utusan sorga yang nabi Yang juga dinyatakan langsung si Putra Ilahi. Sang Putra si Anak Manusia taat BapaNya Kala diputuskan harus mati di kota nan jaya Dengan tegar langkah diarahkan ke ini kota Kala waktunya makin dekat dan segera tiba. Keputusan telah dibuat, tekad membaja jiwa Terus saja membara, untuk taat serta setia Pada keputusan si penguasa alam semesta. Seorang murid yang coba cegah Dia ke sana Dibentak dan dihardik dianggap hanya bisa Berpikir ala manusia lupa Allah yang utama. Tuhan melangkah gagah tidak gentar rasa Hukuman mati memang menanti Dia di sana Tetapi kan memang itu tujuan Dia ke dunia? Mati di Yerusalem untuk tebus dosa manusia Seperti yang diperintahkan Sang Mahakuasa. Datang tunggangi keledai yang masih muda Pertanda akan dielu-elukan bak raja dunia Walau sesungguh Dia itu raja alam semesta Yang kelak akan menjadi hakim satu-satunya Pengadil semuanya entah sorga entah neraka. Drama pun membelah tembok-tembok kota, Hunjam tepat langsung inti benci membara Karena memang harus seperti itulah adanya Agar apa yang dinubuat para nabi dulu kala Semua terjadi semua terpenuhi tanpa sisa. Terbilang di antara durjana, salah satunya, Dan itulah yang terjadi di Yerusalem jaya. Pernah dua kali rata dengan tanah ini kota, Akan rata lagi kala Tuhan tiba yang kedua. Belasan kali dikepung belasan kali durhaka Belasan kali pula direbut kembali guna jaya. Itu kota yang konon kabarnya tak akan bisa Seorang nabi terbunuh, kalau tidak di sana. Sejarah panjang kota tetap gemuruh berjaya Menunggu kelak bila masanya pastilah tiba Untuk nanti kembali runtuh tanpa sisa tatkala Nabi mulia untuk kedua kalinya datang tiba, Menyapa slogan berserah kala tiba masanya. Yerusalem, Yerusalem, seru Dia bertalu-talu, Tanda rindu menggebu guna kumpul menyatu Dengan putra-putri pilihan yang lupa mengaku Bahwa mereka dulu dipilih guna terus berseru Bahwa hanya kepada Bapa yang satu menuju. (tbs/sda-essinomorabadi-06062024-087853451949)   Jerusalem … Jerusalem … In Jerusalem, a city eternal and grand, Where faith and history intertwined. A city of gold, a city of light, Where the divine and the mortal take flight. But beneath the surface, a darkness lies, A hate that festers, and a people divided. The city of peace, a city of strife, Where love and hate, in a dance, collide. The streets are paved with the stones of time, Where the ancient and the modern intertwine. The prayers the cries, the laughter the tears, Echo through the ages, for years and years. In Jerusalem, the heart of the world, Where the divine and the mortal unfurl. A city of wonder, a city of might, Where love and hate, in a dance, take flight. Notes: This poem is composed by AI Poem Generator after Kasidi inputs the key word ‘Jerusalem’. It is amazing, isn’t it?