Rp108.300 PPh PPN 12%

Lentera senja

Rp108.300 PPh PPN 12%
Gratis Ongkir Ke : Kota Semarang
Stok Produk : 100
CV. CV. ARDINTA BERKAH JAYA Kab. Kendal Badan Usaha PKP mikro

Penilaian Produk

Nilai Rata-rata Belum ada Penilaian
Jumlah Ulasan Belum ada Penilaian

Spesifikasi Produk

SKU
Garansi -
Dimensi 00cm x 00cm x 00cm
Berat 0g
Produk UMKM
Buatan Dalam Negri
KBKI -
Sertifikat TKDN
TKDN 0.00%
BMP 0.00%
TKDN + BMP 0%

Deskripsi

Lentera senja penulis, Alfia Ramadhani Dingin seolah menusuk hingga ke tulang, membuat siapa pun yang merasakannya akan menggigil. Asap tipis dari semangkuk sup di tengah meja makan terasa sangat kontras dengan keadaan di luar. Itu juga memberi secercah harapan, karena dengan menyeruput sup itu beberapa sendok, mungkin saja bisa menghadirkan hangat di tenggorokan. “Eh, berdoa dulu, Abang,” ucapan sang bunda mengurungkan niat Zayyan untuk menuangkan sup ke mangkuknya. Laki-laki itu bahkan ditertawakan oleh kedua adik kembarnya. “Zayyan sudah nggak sabar,” seorang laki-laki paruh baya yang duduk di ujung meja makan pun menyahut. “Supnya memang keliatan enak, sih.” Zayyan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dan terkekeh malu. “Iya, Om.” “Kalau gitu Abang pimpin doa. Ini, kan, juga acara Abang,” titah Athar—ayah Zayyan. “Siap, Yah.” Malam ini, sebuah restoran di Puncak Bogor menjadi pilihan Zayyan untuk mengadakan acara syukuran makan malam atas naik pangkatnya menjadi Letnan Satu. Tak hanya keluarga inti Zayyan saja yang hadir, orang tuanya juga mengundang keluarga omnya dan keluarga sahabat ayahnya yang memang memiliki hubungan baik sejak dulu. “Nggak kerasa banget, ya, Ndan, Zayyan sama Khanza sudah besar. Padahal, rasanya baru kemarin jagain Komandan kecil Zayyan,” ujar Guntur—sahabat ayah Zayyan yang turut diundang malam ini. “Iya, ya, nggak kerasa banget,” sahut Athar. “Saya jadi ingat rencana perjodohan anak-anak kita waktu mereka masih kecil. Kayaknya waktunya sudah pas. Mau tunggu apalagi?” Uhuk! Kedua orang yang menjadi topik pembicaraan itu tersedak bersamaan. Mereka adalah Arkanza Zayyan Ghaziullah El-Zein dan Khanza Nabila Razka. Zayyan adalah seorang laki-laki berusia dua puluh enam tahun yang menjabat sebagai Letnan Satu TNI AD. Di hadapannya, duduk seorang perempuan bernama Khanza yang berprofesi sebagai dokter. “Kayaknya dulu yang paling semangat kita, ya, Sya?” ujar Syafiya, bundanya Zayyan, seolah tidak tahu dengan sikap canggung Zayyan dan Khanza. “Iya, tuh, bener. Lucu banget kalau diingat-ingat,” timpal Raisya, ibunya Khanza, membuat para orang tua terkekeh. “Kalau saya, sih, setuju banget, Ndan. Tinggal anak-anaknya aja maunya gimana.” Guntur melirik Zayyan dan Khanza, membuat keduanya saling berpandangan sekilas. Lalu, mereka berdua pun segera mengalihkan pandangan. “Khanza? Zayyan?” panggil Bunda Syafiya lagi. “Insya Allah, saya sudah si—” “Kayaknya aku belum bisa. Aku mau fokus sama karier dulu,” Khanza memotong ucapan Zayyan. Hal itu membuat seisi meja makan hening sesaat dan hanya saling melempar tatapan. “Apa lagi yang mau kamu fokuskan, Za?” Guntur menyahut sambil menghela napas. “Kamu, kan, sudah jadi dokter tetap di rumah sakit impianmu. Ayah rasa, ini memang sudah waktunya kamu menikah.” “Ayahmu benar, Nak,” Raisya setuju. “Tapi, Yah, Bu….” ucapan Khanza terpotong oleh suara dehaman dari meletakkan peralatan makannya dan menatap orang tuanya satu per satu. “Sepertinya lebih baik kita bahas lagi nanti.” Melihat kondisi yang kurang nyaman, Ayah Athar memilih mengakhiri pembahasan ini. “Sekarang makan-makan dulu aja.” Ayah Athar sendiri merasa tidak enak karena membuat hubungan orang tua dan anak memburuk. Ia pun sengaja mencairkan suasana dengan mencari topik pembicaraan lain. Untungnya setelah itu, mereka bisa melanjutkan makan malam tanpa canggung. Sementara itu, Zayyan diam saja di kursinya. Sesekali, matanya melirik Khanza di seberang sana. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Khanza. Ia tahu Khanza sejak kecil, pasti ada alasan lain kenapa gadis itu menolak untuk segera dilamar. Perasaan mengganjal itu terus menghantui Zayyan sampai acara makan malam selesai. Akhirnya, Zayyan meminta izin kepada para orang tua untuk mengajak Khanza berbicara di luar. Kedua adik kembar Zayyan juga mengikuti, tapi mereka memilih untuk tidak mendekat dan hanya mengawasi dari jauh. “Za,” panggil Zayyan ketika jarak mereka cukup jauh dari adik-adiknya. “Kamu yakin dengan ucapanmu tadi? Ingin fokus pada karier?” Khanza terdiam. “Aku kenal kamu, Za. Alasan kamu tadi… cukup nggak masuk akal buatku,” lanjut Zayyan. Ia sudah mengenal Khanza dari kecil. Gadis itu memang pintar dan rajin, tapi bukan tipe yang ambisius. Ia selalu mengutamakan keluarganya dibanding dirinya sendiri. Makanya, Zayyan merasa janggal dengan ucapan Khanza tadi. Khanza menarik napas panjang. “Aku nggak mau ini semakin panjang. Jadi aku katakan yang sebenarnya sama kamu sekarang.” Zayyan menegakkan tubuhnya dan menatap Khanza lekat-lekat. “Sebelumnya, aku minta maaf kalau kejujuranku ini membuat kamu nggak nyaman.” Khanza menghela napas. “Sebenarnya, sekarang aku sedang menyukai seseorang. Jadi aku nggak bisa mewujudkan rencana perjodohan seperti yang orang tua kita mau.” Zayyan terdiam sesaat. Dadanya berdebar keras karena ucapan Khanza itu. “Sia—" “Dan laki-laki itu Zidan,” potong Khanza to the point.